Sistem Informasi Berbasis Komputer

Standar

Sistem Informasi berbasis Komputer

Sistem informasi berbasis komputer (CBIS, Computer Base Information System), mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi, meskipun secara teoritis, penerapan sebuah sistem informasi memang tidak garus menggunakan komputer dalam kegiatannya, namun pada prakteknya dengan dataa dan kebutuhan informasi yang begitu kompleks maka peran teknologi komputet begitu dibutuhkan, peran komputer inilah yang dikenal dengan istilah “Computer Based” karena digunakan untuk mengolah informasi dalam sebuah sistem maka disebut “computer Base Information System” atau sistem informasi berbasis computer.

Dan efektif CBIS ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berkualitas, sehingga tujuan organisasi (user) dapat tercapai secara effisien dan efektif dengan hasil yang maksimal dalam proses yang optimal dan lima hal pokok yang merupakan manfaat dari sistem informasi dalam pengendalin manajemen organisasi adalah :

–          Penghematan waktu (time saving)

–          Penghematan biaya (cost saving)

–          Peningkatan efektifitas (effectiveness)

–          Pengembangan teknologi ( technologi development)

–          Pengembangan personal akuntansi (accounting staff development)

Sistem informasi berbasis komputer terdiri dari 5 sub bab :

  1. Sistem informasi akuntansi

Sistem informasi Akuntansi (SIA) adalah sebuah sistem informasi yang menangani segala sesuatu yang berkenaan dengan akuntansi. Akuntansi sendiri sebenarnya adalah sebuah sistem informasi.

Fungsi penting yang dibentuk SIA ada sebuah organisasi antara lain :

Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi. Memproses data menjadi informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.melakukan kontrol secara tepat terhadap aset organisasi. Subsistem SIA memproses berbagai transaksi non keuangan yang secara langsung mempengaruhi pemrosesan transaksi keuangan.

Ciri dalam transaksi SIA :

Menghasilkan jumlah data yang besar, yang tiap hari selalu diproses, disimpan dan membutuhkan kecepatan akses yang cepat serta keakuratan yang tinggi membutuhkan kemudhan dalam pengoperasian pengontrolan serta prosedur error-checking yang baik dalam menjaga sekuritas dan keakuratan data dirancang khusus untuk kemudahan audit data, serta tracing (menelusuri) trasaksi yang terjadi beberapa menggunakan aplikasi DDS dan MIS, misal digunakan dalam menentukan estimasi dan perencanaan anggaran. Menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak. SIA ini sangat diperlukan dalam menjalankan suatu usaha sebagai tolak ukur seberapa besar usaha kita sudah berkembang.

2. Sistem Informasi Mnajemen

Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang sejak tahun 1960an. Walau tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti :’Sistem Informasi”, Sistem Informasi dan pengambilan keputusan”. SIM menggambarkan suatu unit atau badan yang khusus bertugas untuk mengumpulkan berita dan memprosesnya menjadi informasi untuk keperluan manajerial organisasi dengan memakai prinsip sistem. Dikatakan memakai prinsip sistem karena berita yang tersebar dalam berbagai bentuknya dikumpulkan, disimpan serta diolah dan diproses oleh satu badan yang kemudian dirumuskan menjadi suatu informasi.

Bakerville dan Myers beragumentasi bahwa SIM sudah saatnya menjadi disiplin ilmu secara mandiri. Davis menawarkan konsensus bahwa setidaknya terdapat lima aspek yang dapat dikatagorikan sebagai ciri khusus bidang SIM :

Proses manajemen , seperti perencanaan strategis, pengelolaan fungsi sistem informasi, danm seterusnya. Proses pengembangan, seperti manajemen proyek pengembangan sistem, dan seterusnya. Konsep pengembangan, seperti konsep sosio-teknikal, konsep kualitas, dan seterusnya. Representasi, seperti sistem basis data, pengkodean bprogram, dan seterusnya. Sistem aplikasi, seperti knowladge Management, Executive System, dan seterusnya. Sebbagai dasar pengetahuan, Informasi adalah kumpulan dari data-data yang diolah sehingga mebjadi sesuatu ynag berarti dan bermanfaat. Sedangkan data adalah fakta-fakta, angka-angka atau statistik-statistik yang dari padanya dapat menghasilkan kesimpiulan. Kedepannya informasi yang dapat diolah menjadi sebuahpengetahuan baru.

DATA >>INFORMASI >> PENGETAHUAN

Sistem Informasi Manajemen kini tidak lagi berkembang dalam bidang usaha saja, tapi sudah digunakan dalam berbagai bidang, dari mulai pendidikan, kedokteran, industri, dan masih banyak lagi. Ini menandakan bahwa informasi yang akurat dan cepat dibutuhkan diberbagai bidang.

Ada banyak teknologi yang mendukung SIM baik secara online atau offline. Tapi dasar aplikasi yang digunakan pada sistem informasi manajemen adalah aplikasi database. Sistem ini harus mampu mengolah data yang dikumpulkan pada database menjadi sebuah produk informasi yang dibutuhkan penggunanya. Sistem ini juga harus bisa membagi informasi yang diproduksinya menjadi beberapa tingkatan hanya mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

Pada sebuah instansi, manajemen selalu terlibat dalam serangkaian proses manajerial, yang pada intinya berkisar pada penentuan : tujuan dan sasaran, perumusan strategi, perencanaan, penentuan program kerja, pengorganisasian, penggerakkan sumber daya manusia, pemantauan kegiatan operasional, pengawasan, penilaian, serta penciptaan dan penggunaan sistem umpan balik. Masing-masing tahap dalam proses tersebut pasti memerlukan berbagai jenis informasi dalam pelaksanaannya.

3.  Sistem Pendukung Keputusan

Sistem Pendukung Keputusan (Inggris : decision support systems disingkat DSS adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasispengetahuan, manajemen pengetahuan) yang dipakai untuk mendukung mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi terstruktur yang spesifik.

Menurut Moore and Chang, Sistem Pendukung Keputusan dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa.

–          Tahapan Sistem Pendukung Keputusan :

Definisi masalah pengumpulan data atau elemen informasi yang relevan pengolahan data menjadi informasi baik dalam bentuk laporan grafik maupun tulisan menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam presentase).

–          Tujuan dari Sistem Pendukung Keputusan

Membantu menyelesaikan masalah semi-terstruktur mendukung manajer dalam pengambilan keputusan meningkatkan efektifitas bukan efisiensi pengambilan keputusan, Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dapat menggunakan bantuan dari sistem lain seperti Artifical Intelligence, Expert Systems, Fuzzy Logic, dll.

4.  Office Automatice

Pengertian Office Automation ialah penggunaan alat elektronik untuk memudahkan komunikasi formal dan informal terutama berkaitan dengan komunikasi informasi dengan orang-orang didalam dan diluar perusahaan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Awalnya pengguna office automation atau otomatisasi kantor hanya terbatas pada kalangan pabrik industri saja. Namun, saat ini penggunaannya sudah menyebar hingga kalangan perkantoran. Otomatisasi kantor dimulai padatahun 1964, ketika IBM memasarkan mesin yang disebut Magnetic Tape / Selectric Typewriter ( MT/ST) Mesin ketik yang dapat mengetik kata-kata yang telah direkam dalam pita magnetik secara otomatis.

Office Automation (OA) sistem mendukung pekerjaan pada suatu perusahaan secara luas, biasanya digunakan untuk meningkatkan aliran pekerjaan dan komunikasi antar sesama pekerja, tidak peduli apakah pekerja tadi berada disatu lokasi yang sama taupun tidak .

–          Tujuan dari Office Automation ialah :

  1. Membantu kegiatan sekertariat dan karyawan administrasi.
  2. Menaikkan produktivitas.
  3. Membantu memfasilitasi komunikasi formal dan informal antar karyawan didalam dan diluar organisasi.
  4. Mengurangi penghentian kerja.
  5. Pengurangan biaya peralatan.

Penggunaan Office Automation biasanya merupakan orang-orang yang bekerja didalam kantor. Penggunaan Office Automation dibagi kedalam 4 kategori, yaitu :

  1. Manajer
  2. Profesional
  3. Sekertaris
  4. Pegawai Administratif

–          Aplikasi Office Automation

Ada beberapa jenis aplikasi yang digunakan dalam Office Automation diantaranya adalah :

  1. Pengolah kata

Meruapakan aplikasi yang biasa digunakanuntuk mengolah data tertulis, sehingga memungkinkan manajer menyiapkan komunikasi tertulis yang lebih efektif.

  1. Surat elektronik

Tujuan digunakannya surat elektronik ialah untuk mempermudah manajer berkomunikasi secara cepat dan mudah dengan orang lain. Surat elektronik atau biasa disebut email efektif jika tidak diperlukan percakapan 2 arah dan jika penyampaian pesan berjarak jauh.

  1. Voice mail

Syarat utama agar setiap karyawan dapat brkirim pesan melalui voice mail ialah setiap orang harus mempunyai voice mailbox sebagai penerima pesan. Selain itu diperlukan komputer dengan kemampuan menyimpan pesan audio dalam bentuk digital dan kemudian merubahnya kembali menjadi pesan audio ketika pesan tersebut dipanggil. Keuntungan dari vouce mail ini ialah manajer tidak perlu mengetik pesan yang akan disampaikan.

  1. Kander elektronik atau Electronic Calendering

Electronic calendering merupakan penggunaan jaringan komputer untuk menyimpan dan mengambil kalender pertemuan.

  1. Koferensi Audio

Biasa digunakan untuk perusahaan yang tersebar luas di berbagai daerah, sehingga dapat mengefisiensikanwaktu penyampaian pesan. Syarat-syarat terjadinya konferensi audio atau audio converencin ialah :

–        Ada moderator

–        Jumlah peserta maksimal 6 orang

–        Mengirimkan agenda koferensi terlebih dahulu

–        Mengidentifikasikan diri terlebih dahulu sebelum berbicara

–        Rekaman hasil konferensi harus disimpan

–        Salinan rekaman dibagikan kepada peserta

–       Audio concerencing mmerupakan komunikasi sinkron yang mengharuskna para peserta hadir tepat waktu.

  1. Konferensi Video

Merupakan salah satu bentuk telekomunikasi dengan penggunaan televisi untuk menghubungkan para peserta konferensi ada yang tersebar diberbagai daerah. Ada tiga jenis konfigurasi konferensi video yaitu :

–       One-way video and audio sinyal video dan audio dikirim ke satu tempat transmisi ke satu atau beberapa tempat penerimaan.

–       One-way video and two-way audio kemampuan audio 2 arah memungkinkan orang ditempat penerimaan berbicaara dengan orang ditempat transmisi sementara semua orang melihat pada gambar yang sama.

–       Two-way video and audio

Komunikasi audio dan video antara semua tempat berlangsung 2 arah.

  1. Konferensi komputer

Konverensi komputer ialah salah satu bentuk komunikasi dengan menggunakan jaringan komputer sehingga memungkinkan para anggota dengan karakteristik bersama bertukar informasi mengenai suatu topik tertentu. Konferensi komputer dapat terdiri dari banyak peserta dan bisa dipakai untuk banyak topik yang berbeda. Selain itu, juga dapat digunakan dalam satu tempat geografis.

  1. Transmisi Faksimili

Dalam office automation juga terdapat aplikasi trasmisi faksimili yang digunakan untuk mengirim informasi dengan menggunakan peralatan khusu yang dapat membaca citra dokumen pada satu ujung saluraan komunikasi dan kemudian membuat salinannya diujung yang lain. Fax berkontribusi pada pemecahan masalah dengan membagikan dokumen nkepada para anggota tim pemecah masalah secara cepat dan mudah tanpa dibatasi oleh lokasi geografis.

  1. Video text

Ialah kounikasi dengan menggunakan komputer untuk merapikan narasi dan grafik yang tersimpan kelayar CRT

  1. Pencitraan

Pencitraan ialah penggunaan karakter secara optik untu mengubah dokumen-dokumen kertas atau microfilm menjadi format digital untuk disimpan kedalam penyimpanan sekunder. Proses pencitraan dilakukan oleh sistem manajemen dokumen. Sistem tersebut terdiri dari aatu atau beberapa unit pengenalan karakter (OCR) untuk mengubah citra dookumen kedalam data digital. Pencitraan digunakan jika dokumen historis perlu ditelaah dengan maksud memahami suatu masalah.

  1. Dekstop Publishing

Tiga aplikasi dekstop publishing :

  • Administrative

Meliputi dokumen-dokumen yang dimaksud untuk penggunaan intern seperti korespondensi, laporan dan warta.

  • Techincal

Meliputi materi pelatihan, seperti : slides, overhead tranparancies, dan manual.

  • Corporate

Meliputi periklanan, brosur dan dokumen yang digunakan diluar perusahaan.

5. Sistem Pakar

Sistem pakar ( dalam bahasa Inggris : expert system) adalah sistem informasi yang berisi dengan pengetahuan dari pakar sehingga dapat digunakan untuk konsultasi. Pengetahuan dari pakar didalam sistem ini digunakan sebagai dasar oleh sistem pakar untuk menjawab pertanyaan (konsultasi). Kepakaran (expertise) adalah pengetahuan yang ekstensif dan spesifik yang diperoleh melalui rangkaian pelatihan, membaca dan pengalaman. Pengetahuan dapat membuat pakar mengambil keputusan secara lebih baik dan lebih cepat dari pada non-pakar dalam memecahkan problem yang kompleks. Kepakaran mempunyai sifat berjenjang, pakar top memiliki pengetahuan lebih banyak daripada pakar yunior. Tujuan sistem pakar adalah untuk mentransfer kepakaran dari seorang pakar ke komputer, kemudian ke orang lain ( yang bukan pakar).

Sistem pakar adalah suatu program komputer yang mengandung pengetahuan dari satu atau lebih pakar manusia mengenai suatu bidang spesifik. Jenis program ini pertama kali dikembangkan oleh periset kecerdasan buatan pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dan diterapkan secara komersial selama 1980-an. Bentuk umum sistem pakar adalah suatu program yang dibuat berdasarkan suatu set aturan yang menganalisis informasi (biasanya diberikan oleh pengguna suatu sistem) mengenai suatu kelas masalah spesifik serta analisis matematis dari masalah tersebut. Tergantung dari desaiinya, sistem pakar juga mampu merekomendasikan suatu rangkaian tindakan penggunan untuk dapat menerapkan koreksi. Sistem ini memanfaatkan kapabilitas penalaran untuk mencapai suatu simpulan.

–          Kelebihan :

secara garis besar, banyak manfaat yang dapat diambil dengan adanya sistem pakar antara lain :

memungkinkan orang awam bisa mengerjakan pekerjaan para ahli. Bisa melakukan proses secara berulang secara otomatis. Menyimpan pengetahuan dan keahlian para pakar. Meningkatkan output dan produktivitas. Meningkatkan kualitas. Mampu mengambil dan melestarikan keahlian para pakar (terutama yang termasuk keahlian langka). Mampu beroperasi dalam lingkungan yang berbahaya. Memiliki kemampuan untuk mengakses pengetahuan. Memiliki reliabilitas. Meningkatkan kapabilitas sistem komputer. Memiliki kemampuan untuk bekerja dengan informasi yang tidak lengkap dan mengandung ketidakpastian. Sebagai media pelengkap dalam pelatihan. Meningkatkan kapabilitas dalam penyeleseaian masalah dalam waktu pengambilan keputusan.

–          Kelemahan :

Di samping memiliki beberapa keuntungan, sistem pakar juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain :

Biaya yang diperlukan untuk membuat dan memeliharanya relatif mahal karena diperlukan banyak data.

Perlu admin khusus yang selalu update informasi dalam bidang yang sesuai dengan sistem pakar. Pengembangan perangkat lunak sistem pakar lebih sulit dibandingkan perangkat lunak konvensional.

SUMBER :

http://informatika.web.id/sistem-informasi-berbasis-komputer-cbis.htm diakses pada tanggal

29 oktober 2013.

http://www.omegaakuntansi.com/none/sistem-informasi-akuntansi/ diakses pada tanggal

29 oktober 2013.

http://www.sentranet.co.id/component/content/articel/46-ict-world/93-apa-itu-sistem- 

informasi-manajemen.html diakses pada tanggal 29 oktober 2013.

http://id.m.wikipedia.org/wiki/sisteem_pendukung_keputusan diakes pada tanggal 29

oktober 2013.

http://permanaderry.wordpress.com/kumpulan-tugas/pengertian-office-automation/ diakses

       pada tanggal 29 oktober 2013.

http:/.id.m.wikipedia.org/wiki/sisteem_pakar diakses pada tanggal 29 oktober 2013.

Sistem INFORMASI psikologi

Standar

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

A. Pengertian Sistem

Sistem berasal dari bahasa latin (systema) dan bahasa yunani sustema adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi , materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.

Pengertian sistem menurut beberapa ahli :

  1. Menurut Richardus Eko Indrajit (1999) kata sistem mengandung arti kumpulan dari komponen-komponen yang memiliki unsur keterkaitan antara satu dan yang lainnya.
  2. Menurut Blanchard (2000) mendefinisikan sistem sebagai sekumpulan dari elemen-elemen yang mempunyai fungsi bersama untuk mencapai satu tujuan.
  3. Menurut Law (2004) mendefinisikan sistem sebagai sekelompok komponen yang beroperasi secara bersama- sama untuk mencapai tujuan tertentu atau sekumpulan entitas yang bertindak dan berinteraksi bersama-sama untuk memenuhi suatu tujuan akhir yang logis.
  4. Menurut L. James Havery menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
  5. Menurut Aim Abdulkarim (2008) sistem adalah keseluruhan dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional, baik antara bagian-bagian maupun hubungan struktural sehingga hubungan tersebut menimbulkan suatu ketergantungan.

Dari beberapa definisi sistem menurut para ahli yang telah saya jelaskan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem adalah sekumpulan atau keseluruhan dari komponen-komponen, elemen-elemen  yang beroperasi secara bersama-sama dan mempunyai hubungan fungsional  untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan secara logis dan rasional.

B. Pengertian Informasi

Informasi adalah data yang telah diproses menjadi bentuk  yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta , suatu nilai yang bermanfaat. Jadi ada suatu proses trasformasi data menjadi suatu informasi = input – proses – output.

Pengertian informasi menurut beberapa ahli :

  1. Menurut Joner Hsugian informasi adalah sebuah konsep yang universal dalam jumlah muatan yang besar, meliputi banyak hal dalam ruang lingkupnya masing-masing dan tertekam pada sejumlah media.
  2. Menurut Zulkifli Amsyah (2005) informasi adalah data yang sudah diolah kedalam bentuk tertentu sesuai dengan keperluan.
  3. Menurut Hendi Haryadi (2009) informasi dapat didefinisikan sebagai hasil pengolahan data dalam suatu bentuk yang berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
  4. Menurut Kenneth C.Laudon  informasi adalah data yang sudah dibentuk kedalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia.
  5. Menurut Raymond Mcleod (dalam Haryadi, 2009) mengatakan bahwa informasi adalah data yang telah diolah menjadi  bentuk yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan pada saat ini atau pada masa yang akan datang.

Dari beberapa definisi informasi menurut para ahli yang telah saya jelaskan didapat ditarik kesimpulan bahwa informasi adalah data yang didalamnya terdapat input-proses-output yang meliputi banyak hal serta menggambarkan kejadian-kejadian yang nyata untuk pengambilan keputusan dan bermanfaat bagi manusia pada masa uang akan datang.

C. Psikologi

Psikologi berasal dari perkataan yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya, dengan singkat disebut ilmu jiwa.

Pengertian psikologi menurut beberapa ahli :

1. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), psikologi adalah ilmu    yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.

2. Menurut Dakir (1993), Psikologi membahas tingkah laku manusia dalam  hubungannyaqdengan lingkungannya.

3. Menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yangmempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku  individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan lain sebgaianya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.

4. Menurut Heru Basuki (2008), Psikologi adalah ilmu pengetahuan (ilmiah) yang mempelajari perilaku, sebagai manifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif, dan juga emosional. Hasil uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses-prosen mentalnya.

Dari beberapa definisi menurut para ahli yang telah saya jelaskan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dan proses-proses mentalnya. baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak ataupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.

D. Sistem Informasi

Sebelum saya menjelaskan pengertian sistem informasi psikologi, saya akan menjelaskan sistem informasi dari beberapa tokoh :

1. Menurut Erwan Arbie (2001) sistem informasi adalah sistem didalam

suatuorganisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolaham transaksi    harian, membantu dan mendudkung kegiatan operasi, bersifat manajerial dari suatuorganisasi dan membantu mempermudah penyediaaanlaporan yang diperlukan.

2. Menurut O’Brien (2005 sistem informasi adalah suatu kombinasi teratur

Ataupun dari orang, hardware (perangkat keras), software (perangkat lunak), computer networks dan data communication (jaringan komunikasi), dan database (basis data) yang mengumpulkan, mengubah dan menyebarkan informasi didalam suatu bentuk organisasi.

3. Menurut Leitch Rosses (dalam Jugiyanto, 2005) sistem informasi adallah suatu sistem didalam organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolah transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak lua tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

4. Menurut Robert A. Leitch dan K. Roscoe  (dalam jugiyanto, 1999) sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operas, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan yang diperlukan.

5. Menurut Gordon B. Davis (19991), sistem informasi adalah suatu sistem yang menerima masukan data dan instruksi, mengolah data tersebut sesuai dengan instruksi dan mengeluarkan hasilnya.

Berdasarkan uraian penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan pengertian SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI adalah suatu sistem yang menyediakan  informasi-informasi yang berkaitan dengan ilmu psikologi yang dapat dijadikan untuk meningkatkan pengguna dan pengambilan suatu keputusan terhadap penelitian, perencana, dan pengelolaan. Contoh dari sitem informasi psikologi yang berbasis komputer adalah situs theinkblot.com, pada situs ini terdapat penyajian tes Online Rorschach online. Psikologi sendiri berbicara tentang manusia. Jika digabungkan, sistem informasi psikologi mencangkup : Hardware dan Software, people, procedurs, data dan manusia. Hardware dan software sebagai mesin sedangkan prosedur dan manusia sebagai pelaku, dan deata berfungsi sebagai jembatan dari keduanya. Sistem informsi bisa dimanfaatkan oleh pelaku psikologi untuk membantu mereka saat penghitungan skor dalam beberapa tes psikologi.

Sumber :

Arbie, Erwan. Sistem informasi manajemen. (2000). Jakarta: Pustaka Pelajar

Hendi Haryadi.definisi indormasi.(2009).Jakarta : Visimedia.

http://carapedia.com/pengertian_definisi_informasi_menurut_para_ahli_info504.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://kangmoes.com/artikel-tips-trik-ide-menarik-kreatif.definisi/pengertian-informasi.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://www.artikata.com/arti-330712-informasi.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/sistem diakes pada tanggal 08 oktober 2013.

http://carapedia.com/pengertian_definisi_sistem_menurut _para_ahli_info512.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/psikologi diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://www.anneahira.com/definisi-psikologi.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/ diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/sisteminformasi diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

terapi behaviour

Standar

PSIKOTERAPI TERAPI PERILAKU (BEHAVIOUR THERAPY)

Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory) yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders, phobias, dengan memakai tehnik yang didisain menguatkan kembali perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.  Perilaku maladaptif dan kecemasan persisten telah dibiasakan (conditioned) atau dipelajari (learned). Terapi  untuk perilaku maladaptif adalah dg penghilangan kebiasaan (deconditioning) atau ditinggalkan (unlearning). Untuk menguatkan perilaku adalah dg pembiasaan perilaku (operant and clasical conditioning)

SEJARAH PERKEMBANGAN TERAPI PERILAKU

Watson dkk selama 1920 melakukan pengkondisian (conditioning) dan pelepasan kondisi (deconditioning) pada rasa takut, merupakan cikal bakal terapi perilaku formal.  Pada tahun 1927, Ivan Pavlov terkenal dengan percobaannya pada anjing dengan  memakai suara bell untuk mengkondisikan anjing bahwa bell = makanan, yang kemudian dikenal juga sebagai Stimulus dan Respon.

Terapi perilaku pertama kali ditemukan pada tahun 1953 dalam proyek penelitian oleh BF Skinner, Ogden Lindsley, dan Harry C. Salomo. Selain itu termasuk juga Wolpe Yusuf dan Hans Eysenck.

Secara umum, terapi perilaku berasal dari tiga Negara, yaitu Afrika Selatan (Wolpe), Amerika Serikat (Skinner), dan Inggris (Rachman dan Eysenck) yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam melihat masalah perilaku. Eysenck memandang masalah perilaku sebagai interaksi antara karakteristik kepribadian, lingkungan, dan perilaku.

Skinner dkk. di Amerika Serikat menekankan pada operant conditioning yang menciptakan sebuah pendekatan fungsional untuk penilaian dan intervensi berfokus pada pengelolaan kontingensi seperti ekonomi dan aktivasi perilaku.

Ogden Lindsley merumuskan precision teaching, yang mengembangkan program grafik (bagan celeration) standar untuk memantau kemajuan klien. Skinner secara pribadi lebih tertarik pada program-program untuk meningkatkan pembelajaran pada mereka dengan atau tanpa cacat dan bekerja dengan Fred S. Keller untuk mengembangkan programmed instruction.

Program ini dicoba ke dalam pusat rehabilitasi Aphasia dan berhasil. Gerald Patterson menggunakan program yang sama untuk mengembangkan teks untuk mengasuh anak-anak dengan masalah perilaku.

Tujuan:

Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Terapi tingkah laku pada hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang di dalamnya terdapat respons-respons yang layak, namun belum dipelajari;

Meningkatkan perilaku, atau

Menurunkan perilaku

Meningkatkan perilaku:

Reinforcement positif: memberi penghargaan thd perilaku

Reinforcement negatif: mengurangi stimulus aversi

Mengurangi perilaku:

Punishment: memberi stimulus aversi

Respons cost: menghilangkan atau menarik reinforcer

Extinction: menahan reinforce

Tujuan lainnya :

1.         Mengubah PL maladaptive ke cara yg lebih adaptif

2.         Penghapusan PL maladaptive

3.         Memperoleh PL baru

4.         Memperkuat + mempertahankan PL yg diinginkan

5.         Harus diuraikan dg rinci + spesifik

6.         Diinginkan klien + didiskusikan dg terapis

7.         Proses terapi    : prosedur treatment dirumuskan dg spesifik

Fungsi dan Peran Terapis

Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.

Hubungan antara Terapis dan Klien

Pembentukan hubungan pribadi yang baik adalah salah satu aspek yang esensial dalam proses terapeutik, peran terapis yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah laku menghindari bermain peran yang dingin dan impersonal sehingga hubungan terapeutik lebih terbangun daripada hanya memaksakan teknik-teknik kaku kepada para klien. .

Use teknik2 + prosedur2

Dasar   : teori ttg belajar

→ prinsip2 sistematis

A.        CIRI

Tekanan           : PL yg tampak, konktret, spesifik, dpt didefinisi scr operasional,

diamati & diukur

Hasil terapi      :

1.         Harus dapat dievaluasi scr objectif ( sesuai dengan tujuan )

Peran terapi     : direktif, aktif

2.         Sbg guru / trainer, pengarah

3.         Pemberi + mengontrol reinforcem

4.         Sbg model → imitasi

Sifat    :

1.         Mekanis, manipulatif, tdk terlalu menekan hub interpersonal

c.  DASAR

Calsical conditioning

–           Pavlov

–           Eksperiment klasik ( abad 19 )

UCS                →                    UCR

( makanan )                     ( air liur )

CS      (Bel)                         UCR

+

Makanan                                    Air liur

↓                                                ↓

CS    (Bel)                          CR

Air liur → akan muncul krn adanya proses belajar

Dihilangkan ( extinction )

CS ( bel )         →                    CR

Air liur

Terus2an tp

makanan tdk

di give

Lama2 CR hilang

Ex. Percobaan tikus putih

Rasa takut bias dipelajari

– fobia ( bisa dijelaskan dg hasil dari conditioning )

– tikus coba2 kesana – kemari

Sampai dg menginjak            bel       → UCS                       → UCR

↓                                  (makanan)                   (air liur)

s/d setiap x lapar → akan      → UCS                       → makan

menginjak      bel                              (makanan)

lama2 tahu menginjak harus   ……  saat lampu menyala

– lampu → stimulus diskriminasi

Kapan dia boleh / tidak

bias / tidak

D.        HUKUM2 dalam CONDITIONING

al         :

•           Semua PL tergantung lingkungan

•           Dalam kepribadian dapat dibedakan

•           Conditioning respon

•            Conditioning stimulus

•           Kepribadian diperoleh mll pemberian reinforcement / pngukuhan / penguatan

Bentuk            : positif   (+)    berasal

negatif (-)                dari luar

aversif           : dari dalam diri (mis, kecemasan)

if (+)→ diulang

if ( -)→ tdk diulang

•           Extinction       : menghilangkan PL yg telah terbentuk dg tidak memberikan reinforcement (+) atau give reinforcement (-)

E.         KONSEP DASAR

•           Kepribadian    : sekumpulan PL yg diperoleh mll proses belajar (learning)

•           Perkembangan kepribadian bersifat “deterministic”

Ditentukan oleh lingkunagn + pengalaman

•           Perbedaan individual → karena perbedaan pengalaman

•           Tidak mengakui fenomena mental, jiwa

→ hrs sesuatu yg ‘overt’ yg dpt diamati, diobservasi

Manusia → hasil / produk dari lingkungan

(PL – karena pengaruh lingkungan )

•           Kepribadian berkembang mll

– diskriminasi

– generalisasi – respon thd sst yg (hamper)sama

•           Modeling         → punya peran byk dlm pembentukan kepribadian

         Dari tokoh2 penting, org sekitar, keluarga

         u/ PL2 yg mendapat reinforcement (+)

F.         PL MALADAPTIF

1.         terjadi krn dipelajari – learning

– modeling       – (PL model yg adaptif )→ get reinforcement (+)

– do PL maladaptive → get reinforcement (+)

2.         Pl tsb khas budaya, waktu, kelas social, situasi

3.         PL sengaja dilakukan dg 7an u/ get reinforcement (+)

Ex. Usil → get perhatian

G.        TEKNIK2 UTAMA TERAPI BEHAVIOR

1.         desentisisasi sistematik

         teknik yg paling lama di use dlm terapi behavior

         di use u/ menghapus TL yg diperkuat scr negative

         diarahkan kpd mengajar klien u/ menampilkan respons yg tdk konsisten dfg kecemasan

2.         terapi implosive & pembanjiran

         teknik pembanjiran terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi scr berulang2 tanpa penguatan

         terapi implosive berasumsi bhw TL neurotic melibatkan penghindaran terkondisi thd stimulus2 penghsil kecemasan

3.         latihan asertif

         individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yg benar atau layak

4.         terapi aversi

         digunakan untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yg spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dg suatu stimulus yg menyakitkan smpai tingkah laku yg tidak diinginkan terhambat kemunculannya

Bentuk bentuk terapi Perilaku

1.  Sistematis Desensitisasi, adalah jenis terapi perilaku yang digunakan dalam bidang psikologi untuk membantu secara efektif mengatasi fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Lebih khusus lagi, adalah jenis terapi Pavlov/terapi operant conditioning therapy yang dikembangkan oleh psikiater Afrika Selatan, Joseph Wolpe.

Dalam metode ini, pertama-tama klien diajarkan keterampilan relaksasi untuk mengontrol rasa takut dan kecemasan untuk fobia spesifik. Klien dianjurkan menggunakannya untuk bereaksi terhadap situasi dan kondisi sedang ketakutan. Tujuan dari proses ini adalah bahwa seorang individu akan belajar untuk menghadapi dan mengatasi phobianya, yang kemudian mampu mengatasi rasa takut dalam phobianya.

Fobia spesifik merupakan salah satu gangguan mental yang menggunakan proses desensitisasi sistematis. Ketika individu memiliki ketakutan irasional dari sebuah objek, seperti ketinggian, anjing, ular, mereka cenderung untuk menghindarinya.

Tujuan dari desensitisasi sistematis untuk mengatasi ini adalah pola memaparkan pasien bertahap ke objek fobia sampai dapat ditolerir.

2.  Exposure and Response Prevention (ERP),  untuk berbagai gangguan kecemasan, terutama gangguan Obsessive Compulsive. Metode ini berhasil bila efek terapeutik yang dicapai ketika subjek menghadapi respons dan menghentikan pelarian.

Metodenya dengan memaparkan pasien pada situasi dengan harapan muncul kemampuan menghadapi respon (coping) yang akan mengurangi mengurangi tingkat kecemasannya.  Sehingga pasien bisa belajar dengan menciptakan coping strategy terhadap keadaan yang bisa menyebabkan kecemasan perasaan dan pikiran.  Coping strategy ini dipakai untuk mengontrol situasi, diri sendiri dan yang lainnya untuk mencegah timbulnya kecemasan.

3. Modifikasi perilaku, menggunakan teknik perubahan perilaku yang empiris untuk memperbaiki perilaku, seperti mengubah perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan positif dan negatif.

Penggunaan pertama istilah modifikasi perilaku nampaknya oleh Edward Thorndike pada tahun 1911. Penelitian awal tahun 1940-an dan 1950-an istilah ini digunakan oleh kelompok penelitian Joseph Wolpe, teknik ini digunakan untuk meningkatkan perilaku adaptif melalui reinforcement dan menurunkan perilaku maladaptive melalui hukuman (dengan penekanan pada sebab).

Salah satu cara untuk memberikan dukungan positif dalam modifikasi perilaku dalam memberikan pujian, persetujuan, dorongan, dan penegasan; rasio lima pujian untuk setiap satu keluhan yang umumnya dipandang sebagai efektif dalam mengubah perilaku dalam cara yang dikehendaki dan bahkan menghasilkan kombinasi stabil.

4. Flooding, adalah teknik psikoterapi yang digunakan untuk mengobati fobia. Ini bekerja dengan mengekspos pasien pada keadaan yang menakutkan mereka.  Misalnya ketakutan pada laba laba (arachnophobia ),  pasien kemudian dikurung bersama sejumlah laba laba sampai akhirnya sadar bahwa tidak ada yang terjadi.

Banjir ini diciptakan oleh psikolog Thomas Stampfl pada tahun 1967. Flooding adalah bentuk pengobatan yang efektif untuk fobia antara lain psychopathologies. Bekerja pada prinsip-prinsip pengkondisian klasik-bentuk pengkondisian Pavlov klasik-di mana pasien mengubah perilaku mereka untuk menghindari rangsangan negatif.

Tehnik Terapi:

Mencari stimulus yang memicu gejala gejala

Menaksir/analisa kaitan kaitan bagaimana gejala gejala menyebabkan perubahan tingkah laku klien dari keadaan normal sebelumnya.

Meminta klien membayangkan sejelas jelasnya dan menjabarkannya tanpa disertai celaan atau judgement oleh terapis.

Bergerak mendekati pada ketakutakan yang paling ditakuti yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan

Ulangi lagi prosedur di atas sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

5. Latihan relaksasi

Relaksasi menghasilkan efek fisiologis yang berlawanan dengan kecemasan yaitu kecepatan denyut jantung yang lambat, peningkatan aliran darah perifer, dan stabilitas neuromuscular. Berbagai metode relaksasi telah dikembangkan, walaupun beberapa diantaranya, seperti yoga dan zen, telah dikenal selama berabad-abad.

Sebagian besar metode untuk mencapai relaksasi didasarkan pada metode yang dinamakan relaksasi progresif. Pasien merelaksasikan kelompok otot-otot besarnya dalam urutan yang tertentu, dimulai dengan kelompok otot kecil di kaki dan menuju ke atas atau sebaliknya. Beberapa klinisi menggunakan hypnosis untuk mempermudah relaksasi atau menggunakan tape recorder untuk memungkinkan pasien mempraktekkan relaksasi sendiri.

Khayalan mental atau mental imagery adalah metode relaksasi dimana pasien diinstruksikan untuk mengkhayalkan diri sendiri di dalam tempat yang berhubungan dengan rasa relaksasi yang menyenangkan. Khayalan tersebut memungkinkan pasien memasuki keadaan atau pengalaman relaksasi seperti yang dinamakan oleh Benson, respon relaksasi.

6. Observational learning, Juga dikenal sebagai: monkey see monkey do. Ada 4 proses utama observasi pembelajaran.

Attention to the model.

Retention of details (observer harus mampu mengingat kebiasaan model)

Motor reproduction (observer mampu menirukan aksi)

Motivation and opportunity (observer harus termotivasi melakukan apa yang telah diobservasi dan diingat dan harus berkesempatan melakukannya).

reinforcement. Punishment may discourage repetition of the behaviour

7.Latihan Asertif

Tehnik latihan asertif membantu klien yang:

Tidak mampu mengungkapkan ‘’emosi’’ baik berupa mengungkapkan rasa marah atau perasaan tersinggung.

Menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,

Klien yang sulit menyatakan penolakan, mengucapkan kata “Tidak”.

Merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Prosedur:

Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran.

Misalnya, klien mengeluh bahwa dia acap kali merasa ditekan oleh atasannya untuk melakukan hal-hal yang rnenurut penilaiannya buruk dan merugikan serta mengalami hambatan untuk bersikap tegas di hadapan atasannya itu.

Cara Terapinya:

Pertama-tama klien memainkan peran sebagai atasan, memberi contoh bagi terapis, sementara terapis mencontoh cara berpikir dan cara klien menghadapi atasan. Kemudian, mereka saling menukar peran sambil klien mencoba tingkah laku baru dan terapis memainkan peran sebagai atasan. Klien boleh memberikan pengarahan kepada terapis tentang bagaimana memainkan peran sebagai atasannya secara realistis, sebaliknya terapis melatih klien bagaimana bersikap tegas terhadap atasan.

8. Terapi Aversi

Teknik-teknik pengondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat/hilang.

Terapi ini mencakup gangguan, kecanduan Alkohol, Napza, Kompulsif, Fetihisme, Homoseksual, Pedhophilia, Judi, Penyimpangan seksual lainnya.

Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling kontroversi, misalnya memberikan kejutan listrik pada anak anak autis bila muncul tingkah laku yang tidak diinginkan.

Efek-efek samping:

Emosional tambahan seperti tingkah laku yang tidak diinginkan yang dihukum boleh jadi akan ditekan hanya apabila penghukum hadir.

Jika tidak ada tingkah laku yang menjadi alternatif bagi tingkah laku yang dihukum, maka individu ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan,

Pengaruh hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang berkaitan dengan tingkah laku yang dihukum, Mis; Seorang anak yang dihukum karena kegagalannya di sekolah boleh jadi akan membenci semua pelajaran, sekolah, semua guru, dan barangkali bahkan membenci belajar pada umumnya,

9. Pengondisian operan

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makan, bermain, dsb.

Menurut Skinner (1971) jika suatu tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi. Prinsip penguatan yang menerangkan pembentukan, memelihara, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operan. Berikut ini uraian ringkas dari metode-metode pengondisian operan yang mencakup: perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan, dan token economy.

Perkuatan positif, adalah pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Cara ini ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat-pemerkuat, baik primer maupun sekunder, diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat-pemerkuat primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat primer adalah makanan dan tidur atau istirahat. Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan kebutuhan psikologis dan sosial, memiliki nilai karena berasosiasi dengan pernerkuat-pemerkuat primer.

Pembentukan Respon, adalah tingkah laku yang sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. jadi, misalnya, jika seorang guru ingin membentuk tingkah laku kooperatif sebagai ganti tingkah laku kompetitif, dia bisa memberikan perhatian dan persetujuan kepada tingkah laku yang diinginkannya itu. Pada anak autistik yang tingkah laku motorik, verbal, emosional, dan sosialnya kurang adaptif, terapis bisa membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat primer maupun sekunder.

Perkuatan intermiten, diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik. Tingkah laku yang dikondisikan oleh perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding dengan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus. Dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada tahap-tahap permulaan terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan, sesegera mungkin saat tingkah laku yang diinginkan muncul. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi.

Penghapusan, adalah dengan landadsan bahwa apabila suatu respons terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh jadi berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh. Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kebandelan di rumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belaj.u tingkah laku yang diinginkan.

Modeling, metodenya dengan mengamati seorang  kemudian mencontohkan tingkah laku sang model.  Bandura(1969), menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung, bisa juga diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, kecakapan-kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada. Juga reaksi-reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yang mendekati objek-objek atau situasi-situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat-akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya. Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti dan orang-orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status yang tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.

Token Ekonomi, metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini. Metode taken economy sangat mirip dengan yang dijumpai dalam kehidupan nyata, misalnya, para pekerja dibayar untuk hasil pekerjaan mereka.

Hasil Terapi Perilaku

Terapi perilaku telah berhasil dalam berbagai gangguan dan mudah diajarkan. Cara ini memakan waktu yang lebih sedikit dibandingkan terapi lain dan lebih murah digunakan. Keterbatasan metode adalah bahwa cara ini berguna untuk gejala perilaku yang terbatas, bukannya disfungsi global (sebagai contohnya, konflik neurotic, gangguan kepribadian). Ahli teori yang berorientasi analitik telah mengkritik terapi perilaku dengan mengatakan bahwa menghilangkan gejala sederhana dapat menyebabkan gejala pengganti. Dengan kata lain, jika gejala tidak dipandang sebagai akibat dari konflik dalam diri ( inner conflict ) dan jika penyebb inti dari gejala tidak di jawab atau di ubah, hasilnya adalah timbulnya gejala baru. Satu interpretasi terapi perilaku dicontohkan oleh pernyataan controversial dari Eysenck: “ teori belajar tentang gejala neurotic adalah semata – mata kebiasaan yang dipelajari; tidak terdapat neurosis yang mendasari gejala, tetapi semata- mata gejala itu sendiri. Sembuhkan gejalanya dan anda telah menghilangkan neurosis.” Beberapa ahli terapi percaya bahwa terapi perilaku adalah pendekatan yang terlalu disederhanakan kepada psikopatologi dan interaksi kompleks antara ahli terapi dan pasien. Substitusi gejala mungkin tidak dapat dihindari, tetapi kemungkinannya adalah suatu pertimbangan penting dalam menilai kemanjuran terapi perilaku.

Seperti pada bentuk terapi lainnya, suatu pemeriksaan masalah, motivasi dan kekuatan psikologis pasien harus dilakukan sebelum menerapkan pendekatan terapi perilaku.

Reference:

Daftar Referensi :

Gerald Corey, Konseling dan Psikoterapi,  Refika Aditama, 2009, Bandung

Michel Hersen, Encyclopedia of Psychotherapy, Pacific University, Forest Grove, Oregon. AP.

Windy Dryden, Developments  in  Psychotherapy, SAGE Publications Ltd, 2006, London.

John and Rita Sommers,  Counseling and Psychotherapy theories in context and practice, John Wiley &     Sons, Inc, 2004, New Jersey.

http://www.wikipedia.com

Rational emotive therapy

Standar

 

1.            Pengertian Terapi

Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.

Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

Istilah Terapi Emotif Rasional (TRE / RET—Rational Emotion Therapy) sukar digantikan dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; paling-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dan akal sehat (rational thingking, berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali cara berpikir dan memanfaatkan akal sehat.

Pelopor dalam sekaligus promoter utama corak konseling ini adalah Albert Ellis, yang telah banyak menerbitkan banyak karangan dan buku, antara lain buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1962), A New Guide to Rational Living (1975), serta karangan Burks Theories of Counselling yang berjudul The Rational Emotive Approach to Counselling dalam buku Burks Theories of Counselling (1979).

Menurut pengakuannya Ellis sendiri, corak konseling Rational Emotive Terapi (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan Kognitif Behavioristik. Banyak buku yang telah terbit mengenai tata cara memberikan konseling kepada diri sendiri, mengambil inspirasi dari gerakan RET, misalnya J. Lembo, Help Yourself, yang telah disadur pula kedalam bahasa Indonesia dengan judul Berusahalah Sendiri (1980).

  1.  Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah, didalamnya merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.

Adapun ciri-ciri berpikir irasional adalah :

  1. Tidak dapat dibuktikan
  2. Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu
  3. Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif

Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional disebabkan oleh:

  1. Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyatan dan imajinasi
  2. Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain
  3. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.

Indikator sebab keyakinan irasional adalah:

  1. Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan
  2. Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum
  3. Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya
  4. Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk menghadapi dan menanganinya
  5. Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut
  6. Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang
  7. Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural\
  8. Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.

Menurut Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran­-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:

1. Mengabaikan hal-hal yang positif,

2. Terpaku pada yang negatif,

3. Terlalu cepat menggeneralisasi.

Secara ringkas, Ellis mengatakan bahwa ada tiga ke­yakinan irasional:

1. “Saya harus punya kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak berguna”:

2. “Orang lain harus memahami dan mempertimbang­kan saya, atau mereka akan menderita”.

3. “Kenyataan harus memberi kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa”

 

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

  1. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
  2. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
  3. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.

Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke­sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me­nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.

Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.

 

Corak konseling RET berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia dan tentang proses manusia dapat mengubah diri, yang sebagian bersifat filsafat dan sebagian lagi bersifat psikologis, yaitu:

a.       Manusia adalah mahluk yang manusiawi, artinya dia bukan superman dan juga bukan mahluk yang kurang dari seorang manusia. Manusia mempunyai kekurangan dan keterbatasan, yang mereka atasi sampai taraf tertentu. Selama manusia hidup di dunia ini, dia harus berusaha untuk menikmatinya sebaik mungkin.

b.      Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh bekal keturunan atau pembawaan, tetapi sekaligus juga tergantung dari pilihan-pilihan yang dibuat sendiri. Nilai-nilai kehidupan (values) untuk sebagian ditentukan baginya.

c.       Hidup secara rasional berarti berpikir, berperasaan, dan berperilaku sedemikian rupa, sehingga kebahagiaan hidup dapat dicapai secara efisien dan efektif. Bilamana orang berpikir, berperasaan dan berperilaku sedemikian rupa, sehingga segala tujuan yang dikejar tidak tercapai, mereka ini hidup secara tidak rasional. Dengan demikian berpikir rasional menunjuk pada akal sehat, sehingga sungguh-sungguh membantu mencapai kebahagiaan di hidup ini. Orang yang tidak mencapai kebahagian itu harus mempersalahkan dirinya sendiri karena tidak menggunakan akal sehatnya secara semestinya.

d.      Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk hidup secara rasional dan sekaligus untuk hidup secara tidak rasional. Dia dapat berpikir dengan akal sehat, tetapi dapat juga berpikir salah.

e.       Orang kerap berpegang pada setumpuk keyakinan yang sebenarnya kurang masuk akal atau irrasional (irationalbeliefs), yang ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan kebudayaan atau diciptakan sendiri. Mungkin juga keyakinan-keyakinan itu merupakan gabungan dari pengaruh lingkungan sosial dan gagasannya sendiri. Tumpukan keyakinan irasional cenderung untuk bertahan lama, bahkan orang cenderung memperkuatnya sendiri dengan berbagai dalih. Albert Ellis sendiri mengakui mula-mula merumuskan 11 keyakinan irasional yang dianggapnya dipegang oleh banyak orang, tetapi kemudian ditinjau kembali. Jumlah itu dikurangi sampai tiga keyakinan dasar yang irasional, yaitu tiga keharusan yang disampaikan oleh orang kepada dirinya sendiri:

Teapi Emotif Rasional yang dikembangkan oleh Albert Ellis merupakan bagian dari terapi CBT (cognitive behavioral therapy) lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan dalam arti menitik beratkan pada proses berpikir, menilai, memuuskan, menganalisa dan bertindak. Konsep-konsep Teapi Emotif Rasional membangkitkan sejumlah pertanyaan yang sebaiknya, seperti: Apakah pada dasarnya psikoterapi merupakan proses reduksi? Apakah sebaiknya terapis berfungsi terutama sebagai guru? Apakah pantas para terapis menggunakan propaganda, persuasi, dan saran-saran yang sangat direktif? Sampai mana membebaskan keefektifan usaha membebaskan para klien dari “keyakinan-keyakinan irasional” nya dengan menggunakan logika, nasihat, informasi, dan penafsiran-penafsiran.

Teapi Emotif Rasional adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan –kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan yang tidak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.

Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event, Belief,  dan Emotional consequence. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.

Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.

Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

Teapi Emotif Rasional (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.

Teapi Emotif Rasional menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.

TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.

Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.

Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran.

Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena:

(1) terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas,

(2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi,

(3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.

Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa “gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah”.

TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.

Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : ” meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik”. Tujuan psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka.

Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.

 

3.      Tujuan Terapi Emotif Rasional

Tujuan utama dari terapi ini yaitu meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik. Terapi ini mendorong suatu reevaluasi filosofis dan ideologis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis, dengan demikian Terapi Emotif Rasional tidak diarahkan semata-mata pada penghapusan gejala (Ellis, 1967, hlm, 85;1973a, hlm. 172), tetapi untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar. Jika masalah yang dihadirkan oleh klien adalah ketakutan atas kegagalan dalam perkawinan misalnya, maka sasaran yang dituju oleh seorang terapis bukan hanya pengurangan ketakutan yang spesifik itu, melainkan penanganan atas rasa takut gagal pada umumnya. TRE bergerak ke seberang penghapusan gejala, dalam arti tujuan utama.

Ringkasnya, proses terapeutik utama TRE dilaksanakan dengan suatu maksud utama yaitu: membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasikan suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasikan keyakinan-keyakinan dogmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya
Untuk mencapai tujuan-tujuan diatas, terapis memiliki tugas-tugas yang spesifik. Langkah pertama adalah menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya, dan menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukan banyak “keharusan”, “sebaiknya”, dan “semestinya”. Klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinannya yang rasional dari keyakinan-keyakinan irasionalnya. Agar klien mencapai kesadaran, terapis berfungsi sebagai kontrapropogandis yang menentang propaganda yang mengalahkan diri yang oleh klien pada mulanya diterima tanpa ragu sebagai kebenaran. Terapis mendorong, membujuk, dan suatu saat bahkan memerintah klien agar agar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang akan bertindak sebagai agen-agen kontra propoganda.

Langkah kedua adalah membawa klien ke-seberang tahap kesadaran dengan menunjukkan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosional untuk tetap aktif dengan terus menerus berpikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan yang mengekalkan pengaruh masa kanak-kanak. Dengan perkataan lain, karena klien tetap mereindoktrinasi diri, maka dia bertanggung jawab atas masalah-masalahnya sendiri. Terapis tidak hanya cukup menunjukkan kepada klien bahwa Dia memiliki proses-proses yang tidak logis, sebab klien cenderung mengatakan, ”sekarang saya mengerti bahwa saya memiliki ketakutan akan kegagalan dan bahwa ketakutan ini berlebihan dan tidak realistis”.

Untuk melangkah ke seberang pengakuan klien atas pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan irasionalnya, terapis mengambil langkah ketiga, yakni berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irasionalnya. TRE berasumsi bahwa keyakinan-keyakinan yang tidak logis itu berakar dalam sehingga biasanya klien tidak bersedia mengubahnya sendiri. Terapis harus membantu klien untuk memahami hubungan antara gagasan-gagasan yang mengalahkan diri dan filsafat-filsafatnya yang tidak realistis yang menjurus pada lingkaran setan proses penyalahan diri. Jadi langkah terakhir dari proses terapeutik adalah menantang klien untuk mengembangkan filsafat-filsafat hidup yang rasional sehingga dia bisa menghindari kemungkinan menjadi korban keyakinan-keyakinan yang irasional.

Menangani masalah-maslah atau gejala-gejala yang spesifik saja tidak menjamin bahwa masalah-masalah lain tidak akan muncul. Yang kemudian diharapkan adalah terapis menyerang inti pikiran irasional dan mengajari klien bagaimana menggantikan keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang irasional dengan yang rasional.

Terapis yang bekerja dalam kerangka TRE fungsinya berbeda dengan kebanyakan terapis yang lebih konvensional. Karena TRE pada dasarnya adalah suatu proses terapeutik kognitif dan behavioral yang aktif dan direktif. TRE adalah suatu proses edukatif, dan tugas utama terapis adalah mengajari klien cara-cara memahami dan mengubah diri. Terapis terutama menggunakan metodologi yang gencar, sangat direktif, dan persuasif yang menekankan aspek-aspek kognitif. Rllis (1973ª,hlm.185) memberikan suatu gambaran tentang apa yang dilakukan oleh terapis TRE sebagai berikut:

a.       mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku;

b.      menantang klien untuk menguji gagasan-gagasanya;

c.       menunjukkkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya;

d.      menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien;

e.       menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan;

f.       menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien;

g.      menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris;

h.      mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara berpikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan yang irasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekarang maupun pada masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang dapat merusak diri.

Pengalaman utama klien dalam TRE adalah mencapai pemahaman. TRE berasumsi bahwa pencapaian pemahaman emosional (emotional insight) oleh klien atas sumber-sumber gangguan yang dialaminya adalah bagian yang sangat penting dari proses terapeutik. Ellis (199\67, hlm 87) mendefinisikan pemahaman emosional sebagai “ mengetahui atau melihat penyebab-penyebab masalah dan bekerja dengan keyakinan dan bersemangat untuk menerapkan pengetahuan itu pada penyelesaian masalah-masalah tersebut”. Jadi, TRE menitikberatkan penafsiran sebagai suatu alat terapeutik.

4.      Tiga Taraf Pemahaman dalam TRE

Klien menjadi sadar bahwa ada anteseden tertentu yang menyebabkan dia takut terhadap suatu hal:

a.       Klien mengakui bahwa dia masih merasa terancam oleh ketidaknyamanannya, karena dia tetap mempercayai dan mengulang-ulang keyakinan-keyakinan irasional yang telah diterimanya.

b.      Tarap pemahaman ketiga terdiri atas penerimaan klien bahwa dia tidak akan membaik, juga tidak akan berubah secara berarti kecuali jika dia berusaha sungguh-sungguh dan berbuat untuk mengubah keyakinan irasionalnya dengan benar-benar melakukan hal-hal yang bersifat kontropropaganda.

TRE lebih menekankan terutama pada dua pemahaman-pemahaman yaitu tarap pemahaman kedua dan ketiga, yakni pengakuan klien bahwa dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang semula mengganggu dan bahwa dia sebaiknya menghadapinya secara rasional-emotif, memikirkannya, dan berusaha menghapuskannya.

5. Penerapan Teknik-Teknik Dan Prosedur-Prosedur Terapeutik Rasional Emotif

TRE memberikan keleluasaan kepada pempraktek untuk menjadi eklektik. Sebagian besar sistem psikoterapi mengandaikan suatu kondisi tunggal yang diperlukan bagi pengubahan kepribadian. Ellis (1976, hlm 89), berpendapat bahwa mungkin tidak ada kondisi tunggal atau sekumpulan kondisi yang memadai dan yang esensial bagi terjadinya suatu perubahan. TRE menandaskan bahwa orang-orang bisa mengalami perubahan melalui banyak jalan yang berbeda seperti memiliki pengalaman-pengalaman hidup yang berarti, belajar tentang pengalaman-pengalaman, orang lain, memasuki hubungan dengan terapis, menonton film, mendengarkan rekaman-rekaman, mempraktekkan pekerjaan rumah yang spesifik, melibatkan diri dalam korespondensi melalui saluran-saluran TRE, menghabiskan waktu sendirian untuk berpikir dan meditasi, dan dengan banyak cara lain untuk menentukan perubahan kepribadian yang tahan lama.

Teknik TRE yang esensial adalah mengajar secara aktif-direktif. Segera setelah terapi dimulai, terapis memainkan peran sebagai pengajar yang aktif untuk mereeduksi klien. Dalam hal ini teknik-teknik yang dapat digunakan dalam terapi ini meliputi diantaranya: pelaksanaan pekerjaan rumah (home task/work) dimana pada pelaksnaannya klien diajarkan dan disuruh untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang dapat dilakukannya seperti kedisiplinan waktu, merapihkan tempat tidur, melaksanakan komunikasi dan relasi yang positif (produktif), desensitiasi, pengkondisian operan, hipnoterapi dan latihan asertif.

 

6.  Penerapan TRE pada Terapi Individual

Ellis (1973ª, hlm. 192) menyatakan bahwa pada penanganan terapi individual pada pelaksanaannya diharapkan memiliki satu sesi dalam setiap minggunya dengan jumlah antara lima sampai lima puluh sesi. Dimana pada pelaksanaan terapi ini klien diharapkan mulai dengan mendiskusikan masalah-masalah yang paling menekan dan menjabarkan perasaan-perasaan yang paling membingungkan dirinya. Kemudian terapis juga mengajak klien untuk melihat keyakinan-keyakinan irasional yang diasosiasikan dengan kejadian-kejadian pencetus dan mengajak klien untuk mengatasi keyakinan-keyakinan irasionalnya dengan menugaskan kegiatan pekerjaan rumah yang akan membantu klien untuk cecara langsung melumpuhkan gagasan-gagasan irasionalnya itu serta membantu klien dalam mempraktekkan cara-cara hidup yang lebih rasional.

Setiap minggu terapis memerikasa kemajuan kliennya dan klien secara sinambung belajar mengatasi keyakinan-keyakinan irasionalnya sampai ia lebih dari sekedar menghilangkan gejala-gejala, yakni sampai mereka belajar cara-cara hidup yang lebih toleran dan rasional.

7.     Teknik-Teknik Terapi Emotif Rasional (Emotif)

a.       Assertive adaptive

Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

 

b.      Bermain peran

Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.

c.       Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

8.   Teknik-teknik Behavioristik

a.      Reinforcement

Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.

b.      Sosial modeling

Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.

9.  Teknik-teknik Kognitif

a.     Home work assigments

Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.

Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.

b.   Latihan asertif

Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik latihan asertif adalah :

(a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya;

(b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;

(c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan

(d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.

 

Referensi:

Akhmad Sudratajat. 2008. Pendekatan Konseling Rasional Emotif. dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pendekatan-konseling-rasional-emotif/

DYP Sugiharto, Dr. , M.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. (Makalah)Sayekti Pujosuwarno, Dr, M.Pd. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Menara Mas Offset

www.wikipedia.com diakses pada tanggal 24-04-2013

 

Analisis Transaksional

Standar

A.       Konsep Dasar

Menurut Gerald Corey Analisis Transaksional berakar pada filosofi antideterministik. Analisis ini juga mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh harapan serta tuntutan oleh orang lain yang signifikan baginya, terutama oleh karena keputusan yang terlebih dulu telah dibuat pada masa hidupnya mereka pada saat mereka sangat tergantung pada orang lain. Tetapi keputusan dapat ditinjau kembali dan ditantang, dan apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak lagi cocok, bisa dibuat keputusan

baru.

Analisis transaksional merupakan teori kepribadian dan sistem yang terorganisir dari terapi interaksional. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa di saat kita membuat keputusan berdasarkan premis-premis masa lalu yang pada suatu waktu sesuai dengan kebutuhan kelangsungan hidup kita tetapi yang mungkin tidak lagi berlaku. Analisis transaksional merupakan psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok.

 Analisis transaksional berfokus pada keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan-keputusan baru. Analisis traksaksional ini juga menekankan pada aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya.

      2.      Latar Belakang Sejarah

Analisis transaksional awalnya dikembangkan oleh Eric Berne (1961) yang dilatih sebagai psikoanalis Freud dan psikiater. Berne merupakan ahli ilmu jiwa terkenal di Amerika yang memulai karirnya sebagai psikatris tahun 1941 sebagai psikoanalis. Namun pada akhirnya Berne menciptakan teori baru karena kecewa dengan pelaksanaan psikoanalisa yang membutuhkan waktu lama sampai bertahun-tahun dalam menganalisis pasien.

Gagasan tentang Analisis Transaksional mulai dikenalkan ke publik tahun 1949 melalui makalah yang berjudul “The Nature of Intuition”, tetapi dalam makalah tersebut konsep Analisis Transaksional belum dirumuskan dengan jelas. Konsep Analisis Transaksional secara resmi mulai diperkenalkan pada berbagai forum ilmiah, antara lain pada “Weatern Regional Meeting of the American Group Psychoterapy Assosiation” di Los Angeles, Amerika Serikat tahun 1957 melalui makalah yang berjudul “Transactional Analysis: A New and Effection Method of Group Therapy”.

Berne melakukan percobaan selama hampir 15 tahun dan akhirnya ia merumuskan hasil percobaannya itu dalam suatu teori yang disebut “Analisis Transaksional dalam psikoterapi” yang diterbitkan pada tahun 1961. Pengikut Eric Berne adalah Thomas Harris, Mc Neel J. dan R. Grinkers.

      3.      Asumsi Dasar

Pendekatan analisis transaksional berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap 3 kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak. Pada dasarnya analisis transaksional ini berasumsi bahwa manusia itu:

a.       Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lalunya (manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihannya).

b.      Manusia sanggup melampaui pengkondisian dan pemogragraman awal (Manusia dapat berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now).

c.       Manusia bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, serta mengungkapkan perasaan-perasaannya.

d.      Manusia sanggup untuk tempil di luar pola-pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.

e.       Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang lain.

f.       Manusia dilahirkan bebas tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah berbuat sebagaimana

Transaksional antara lain: status ego, belaian, atau perintah, pembentukan naskah, permainan, dan posisi hidup.

1. Status Ego

menurut eric berne bahwa sumber-sumber tingkah laku, sikap perasaan, sebagaimana individu melihat kenyataan, mengolah informasi dan melihat dunia diluar dirinya disebut status ego.

Istilah status ego yang digunakan oleh eric berne berbeda dengan istilah yang dikemukakan oleh freud (id,ego,super ego) karena bukan merupakan construct, akan tetapi status ego disini dapat diamati dan merupakan suatu kenyataan fenomenologis, yang dapat diamati dengan indera (Harris, 1987,Gilliard, et al,1994).

Landasan pemikiran Berne(1961) dan Prawitasari (1987) tentang status ego berdasar pada tiga hipotesis yang berlaku pada setiap individu.

  1. Bahwa setiap perkembangan menuju pada kedewasaan, melalui masa kanak-kanak.
  2. Bahwa setiap manusia mempunyai jaringan otak yang baik dan sanggup melakukan testing terhadap realita secara baik.
  3. Bahwa setiap individu yang berjuang untuk menuju ke dewasa telah mempunyai orang tua yang berfungsi atau seorang yang dianggap sebagai orang tuanya.

Didalam individu mengadakan interaksi dengan orang lain biasanya didasari oleh ketiga status ego tersebut. Ketiga status tersebut adalah status ego anak, dewasa, dan orang tua. Tingkatan ini timbul karena adanya pemutaran data kejadian pada waktu yang lalu dan direkam, yang meliputi orang, waktu, keputusan, perasaan yang sungguh nyata (Harris, 1987).

Status Ego Anak

ego anak dapat dilihat dalam dua bentuk yaitu sebagai seorang anak yang menyesuaikan dan anak yang wajar. Anak yang menyesuaikan diujudkan dengan tingkah laku yang dipengaruhi oleh orang tuanya. Hal ini dapat menyebabkan anak bertindaak sesuai dengan keinginan orang tuanya seperti penurut, sopan, dan patuh, sebagai akibatnya anak akan menarik diri, takut, manja, dan kemungkinan mengalami konflik. Anak yang wajar akan terlihat dalam tingkah lakunya seperti lucu, tergantung, menuntut, egois, agresi, kritis, spontan, tidak mau kalah dan pemberontak.di dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat jika terjadi suatu interaksi antara dua individu.

Misalnya seorang teman menanyakan kenapa kamu kemarin kemu tidak masuk kantor, maka reaksi yang ditanya muncul perasaan kesal (kok usil amat), atau muncul perasaan takut dan kemudian memberikan jawaban agar dikasihani. Respon ini mewujudkan status ego anak yang menyesuaikan sebagaimana respon yang diberikan jika mendapat teguran dari orang tuanya.

Status Ego Dewasa

Status ego dewasa dapat dilihat dari tingkah laku yang bertanggung jawab, tindakan yang rasional dan mandiri. Sifat dari status ego dewasa adalah obyektif, penuh perhitungan dan menggunakan akal.

Didalam kehidupan sehari-hari interaksi dengan menggunakan status ego dewasa.

Misalnya seorang dosen sedang  memeriksa analisis data dari skripsi mahasiswanya dosen  mengatakan kenapa anda memilih saya sebagai pembimbingnya, maka mahasiswa menjawab ya pak, karena sepengetahuan saya, bapak ahlinya dan sangat menguasai mengenai permasalahan dalam skripsi saya.

Status Ego Orangtua

status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya.

Ada dua bentuk sikap orang tua, yang pertama adalah orang tua yang selalu mengkritik-merugikan, dan yang kedua adalah orang tua yang sayang.

Misalnya sikap orang tua yang mengkritik merugikan seperti “ kamu sih terlalu malas, memang kamu bodoh sih, kamu anak bapak yang paling bandel”.Status ego orang tua yang sayang seperti memberikan dorongan, memberi semangat,menerima, memberikan rasa aman.

2. Belaian

Dalam teori analisis transaksional sebuah belaian merupakan bagian dari suatu perhatian yang melengkapi stimulasi yang optimal kepada individu. Belaian ini merupakan kebutuhan dalam setiap interaksi sosial dan menyehatkan.

Teori Analisis Transaksional menekankan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengadakan hubungan yang bisa dicapai dalam bentuknya yang terbaik melalui keakraban. Hubungan yg akrab berlandaskan penerimaan posisi saya OK kamu OK di kedua belah pihak.

3 Permainan

Menurut Harris (dalam correy, 1982) bahwa permainan (games) merupakan aspek yang penting dalam mengetahui transaksi yang sebenarnya dengan orang lain.di dalam hal ini perlu diobservasi dan diketahui bgaimana permainan dimainkan dan belaian apa yang diterima, bagaiman keadaan permainan itu, apakah ada jarak dan apa diiringi dengan keakraban.

Analisis Transaksional memandang permainan-permainan sebagai penukaran belaian-belaian yg mengakibatkan berlarutnya-larutnya perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan keakraban. Akan tetapi, orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan mengimpersonalkan pasangannya. Transaksi itu setidaknya melibatkan dua orang yang memainkan permainan. Transaksi permainan akan batal jika salah seorang menjadi sadar bahwa dirinya berada dalam permainan dan kemudian memutusakan untuk tidak lagi memainkannya.

4 Posisi Hidup

Suatu keputusan yang dibuat dalam rangka merespon bagaimana reaksi figur orang tua terhadap reaksi awal anak perasaan dan kebutuhannya serta merupakan komponen dasar dari naskah hidup dari individu. Ada 4dasar posisi hidup:

  1. I’m Ok –You’re Ok

Individu mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan percaya orang lain.

  1. I’m Ok- You’re not Ok

Individu membutuhkan orang lain akan tetapi tidak ada yang dianggap cocok, individu merasa memnpunyai hak untuk mempergunakan orang lain untuk mencapai tujuannya.

  1. I’m Not Ok- You’re Ok

Individu merasa tidak terpenuhi kebutuhanya dan merasa bersalah.

  1. I’m Not Ok-You’re Not Ok

Individu merasa dirinya tidak baik dan orang lain pun juga tidak baik, karena tidak ada sumber belaian yang positif.

Analisis lifescript individu didasarkan pada drama-nya keluarga asli. Sebagai hasil mengeksplorasi apa yang mereka pelajari berdasarkan lifescript mereka, klien belajar tentang perintah-perintah mereka diterima secara tidak kritis sebagai anak-anak, keputusan mereka dibuat sebagai tanggapan terhadap pesan ini, dan permainan dan raket sekarang mereka terapkan untuk menjaga keputusan awal ini hidup. Dengan menjadi bagian dari proses penemuan diri, klien meningkatkan kesempatan untuk datang ke pemahaman yang lebih dalam belum selesai mereka sendiri bisnis psikologis, dan di samping itu, mereka memperoleh kemampuan untuk mengambil beberapa langkah-langkah awal untuk keluar dari pola-pola merugikan diri sendiri.

5 batas Status Ego

setiap individu mempunyai ketiga ego tersebut( anak,dewasa, orang tua) bersifat permiabel, sehinggan dimungkinkan terhambatnya aliran dari status ego yang satu ke ego yang lain dalam menaggapi rangsang dari luar.akan tetapi ada batas antara dinding status ego tersebut sangat kuat, sehingga individu tidak mampu melakukan perpindahan ke status ego yang lain.

6 analisis transaksional

ada tiga bentuk transaksi yang terjadi antara dua individu, yaitu: 1)transaksi komplementer, transaksi ini terjadi jika antara stimulus dan respon cocok, tepat dan memang yang diharapkan, sehingga berjalan lancar; 2) transaksi silang, transaksi ini terjadi jika stimulus dan respon tidak cocok dan biasanya komunikasi ini akan terganggu; 3) transaksi terselubung. Transaksi ini terjadi jika antara status ego beroperasi bersama-sama.

B.     Tujuan dalam Pendekatan Analisis Transaksional

Menurut corey, melihat dari tujuan dasar dari analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekrang dan arah hidupnya. Sasaranya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatsai oleh putusan dini mengenai posisi hidupnya.

Menurut Harris (1967) melihat tujuan Analisis Transaksional sebagai membantu individu agar memiliki kebebasan memilih kebebasan mengubah keinginan, kebeasan mengubah respons-respons terhadap stimulus yang lazim maupun yang baru (h.82)

Menurut Lutfi Fauzan, Tujuan konseling analisis transaksional dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.

  1. Tujuan Umum Konseling Analisis Transaksional, ialah membantu individu mencapai otonomi. Individu dikatakan mencapai otonomi bilamana ia memliki Kesadaran, Spontanitas, Keakraban.
  2. 4 Tujuan Khusus Konseling Analisis Transaksional
    1. Konselor membantu klien membebankan Status Ego Dewasanya dari kontaminasi dan pengaruh negatif Status Ego Anak dan Status Ego Orang tua.
    2. Konselor membantu klian menetapkan kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan terlepas dari perintah-perintah orang tua.
    3. Konselor membantu klien untuk menggunakan semua status egonya secara tepat.
    4. Konselor membantu klien  untuk mengubah keputusan-keputusan yang mengarah pada posisi kehidupan “orang kalah”.

C.    Perilaku Salah Suai

Individu yang tidak sehat atau bermasalah ditunjukkan pada tingkah lakunya dengan:

  1. Konsep diri negatif
  2. Hubungan dengan orang lain negatif
  3. Posisi dasar hidupnya I am OK you are not OK, atau I am not OK  you are OK dan I am not OK you are not OK.
  4. Kontaminasi atau eksklusi

Kontaminasi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap atau lebih terhadap seseorang sehingga orang itu “berkurang” keseimbangannya.

Selain eklusi ada satu masalah fungsional yang sering dialami individu yakni kontaminasi yaitu dimana bercampurnya status ego yang satu dengan yang lainnya sehingga mengalami pencemaran

Contohnya:

Seorang yang tidak mampu menempatkan posisisnya dalam lingkungan masyarakat. Seperti seorang kakek yang sudah tua-tua keladi, yang mempunyai hasrat seperti para remaja, atau juga sering menggoda cewek-cewek yang cantik. Tanpa menyadari usianya yang sudah rentang tua, sedaangkan dirinya mempunyai tanggung jawab lain. Yaitu menafkahikeluarganya dsb. Dan dia cenderung berperilaku selayaknya berkelakuan kenakalan remaja

D.    Model Operasional atau Strategi

Konselor analisis transaksional bertugas:

  1. Membantu klian menemukan kemampuan diri untuk mengubah dengan membuat keputusan saat sekarang.
  2. Membantu klien memperoleh alat yang digunakan untuk mencapai perubahan.
  3. Mendororng dan mengajar klien mendasarkan diri pada Status Ego Dewasanya sendiri dari Status Ego Dewasa konselor.
  4. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan kilen dapat membuat keputusan-keputusan baru dalam hidupnya dan keluar dari rencana kehidupan yang menghambat perkembangannya.

E.     Model Pola Hubungan Konselor dengan Klien

Menurut Gerald Corey Pelaksanaan terapi Analisis Transaksional berdasarkan kontrak, kontrak tersebut menjelaskan keinginan klien untuk berubah, di dalam kontrak berisi kesepakatan-kesepakatan yang spesifik, jelas, dan ringkas. Kontrak menyatakan apa yang dilakukan oleh klien, bagaimana klien melangkah ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya dan kapan kontrak tersebut akan berakhir. Kontrak dapat diperpanjang, konselor akan mendukung dan bekerja sesuai kontrak yang telah menjadi kesepakatan bersama. Dengan adanya kontrak maka kewajiban tanggung jawab bagi klien semakin  jelas, membuat usaha klien untuk tidak keluar pada kesepakatan dan komitmen untuk penyembuhan tetap menjadi perhatian, maka klien menjadi fokus pada tujuan-tujuan sehingga proses penyembuhan akan semakin cepat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh konselor ketika membangun hubungan dengan klien;

  1. Pertama, tidak ada kesenjangan pemahaman antara klien dan konselor yang tidak dapat jembatani.
  2. Kedua, klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam terapi, artinya klien memiliki hak untuk menyimpan atau tidak mengungkapkan sesuatu yang dianggap rahasia.
  3. Ketiga, kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan di antara konselor dan klien.

Maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Hubungan yang sederajat antara konselor dengan klien tanpa mengesampingkan status terapis. Teknik Analisis Transaksional, analisis rencana kehidupan yang lebih baru dan analisis permainan.
  2. Konselor transaksional selalu aktif, menghindarkan keadaan diam yang terlalu lama, dan mempunyai tanggung jawab untuk memelihara perhatian pada saat transaksi.
  3. Konselor berupaya menciptakan suasana yang akrab dalam hubungan sosial yang baik agar keaduanya terjadi interaksi timbal baik satu sama lain.

F.     Model Penampilan Analisis Transaksional

Agar konselor dapat membantu klien mencapai perubahan tingkah laku maka konselor analisis transaksional harus memiliki keterampilan:

  1. Menganalisis status ego, trannsaksi, permainan, dan rencana hidup.
  2. Berinteraksi dengan cara terbuka, hangat, dan tulus
  3. Mendengarkan dari mengamati komunikasi klien baik verbal maupun nonverbal.
  4. Mengenai status ego yang digunakan klien pada suatu saat.
  5. Menguasai beberapa pengetahuan tentang prosedur kelompok

G.    Model Analisis dan Diagnosis Masalah Analisis Transaksional

Tahap analisis struktural

Merupakan tahap pertama dari proses konseling konselor membantu klien meneliti struktur status egonya(orang tua, dewasa, dan anak) didalam analisis transaksional klien belajar bagaimana mengidentifikasi status egonya. Agar dapat menetapkan keunggulan status ego yang teruji dalam kenyataan yang bebas dari kontaminasi oleh hal dari masa lalu, seperti teknik kursi kosong, family modelling.

Tahap analisis transaksional

Tahap kedua dimana konselor membantu klien untuk transaksi dengan lingkungannya. Ada tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung. Seperti, metode belajar, role playing atau teknik psikodrama

Tahap analisis permainan

Konselor dituntut untuk memiliki kemampuan menentukan hasil yang diterima klien dari permainan. bahwa permainan (games) merupakan aspek yang penting dalam mengetahui transaksi yang sebenarnya dengan orang lain.di dalam hal ini perlu diobservasi dan diketahui bgaimana permainan dimainkan dan belaian apa yang diterima, bagaiman keadaan permainan itu, apakah ada jarak dan apa diiringi dengan keakraban. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan keakraban yang akan terjalin.

Tahap analisis rencana

Suatu Pemahaman lengkap tentang hasil akhir dan gaya hidup klien akan melibatkan analisis rencana kehidupan yang merupakan tahap keempat dari proses konseling analisis transaksional.

H.    Model Peran Konselor dalam Pendekatan Analisis Transaksional

Peran Konselor :

Sebagai guru. memperjelas teknik analisis transaksional, rencana kehidupan dan analisis rencana kehidupan, rencana analisis permaina

Sebagai pelatih. membantu klien agar terampil melaksanakan hubungan antar pribadi dengan menggunakan status ego yang tepat.dan tidak salah menggunakan ego

Sebagai nara sumber.membantu klien menemukan apa yang diperlukan

Sebagai fasilitator

Sebagai Advisor

Sebagai pengamat

I.              Model teknik dalam Pendekatan Analisis Transaksional

Menurut M.Ramli Secara umum Teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam Analisis Transaksional, yaitu:

Permission (Pemberian Kesempatan), dalam konseling kesempatan ini diberikan kepada kilen untuk; 1) menggunakan waktunya secara efektif tanpa melakukan ritual pengunduran diri; 2) mengalami semua status ego yang biasanya dilakukan dengan mendorong klin menggunakan kemampuan Status Ego Dewasa untuk menikmati kehidupan; 3) tidak memainkan permainan dengan cara tidak membiarkan klian memainkannya.

Protection (Proteksi), klien mungkin akan merasa ketakutan setelah ia menerima kesempatan untuk menghentikan perintah-perintah orang tua dan menggunakan Status Ego Dewasa dan Status Ego Anak.

Potency (Potensi). Seorang konselor ahli sihir , melainkan orang tahu apa yang akan dilakukan dan kapan melakukannya. Oleh karena itu kemampuan konselor terletak pada keahliannya, sehingga keterampilan tersebut efektif secara optimal.Teknik Khusus menurut berne terdiri atas delapan teknik yaitu: Interogasi, Spesifikasi, Konfrontasi, Eksplanasi, Illustrasi, Konfirmasi, Interprestasi, Kristalisasi

J.      Kelemahan dan Kelebihan Dalam Pendekatan Analisis Transaksional

Kelebihan Menurut Gerald Corey :

  1. Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah menggunakannya.
  2. Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.
  3. Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain. Bab ini menyoroti perluasan pendekatan Berne oleh Mary dan almarhum Robert Goulding (1979), pemimpin dari sekolah redecisional TA. The Gouldings berbeda dari pendekatan Bernian klasik dalam beberapa cara. Mereka telah digabungkan TA dengan prinsip-prinsip dan teknik-teknik terapi Gestalt, terapi keluarga, psikodrama, dan terapi perilaku. Pendekatan yang redecisional pengalaman anggota kelompok membantu kebuntuan mereka, atau titik di mana mereka merasa terjebak. Mereka menghidupkan kembali konteks di mana mereka membuat keputusan sebelumnya, beberapa di antaranya tidak fungsional, dan mereka membuat keputusan baru yang fungsional. Redecisional terapi ini bertujuan untuk membantu orang menantang diri mereka untuk menemukan cara-cara di mana mereka menganggap diri mereka dalam peran dan victimlike untuk memimpin hidup mereka dengan memutuskan untuk diri mereka sendiri bagaimana mereka akan berubah.
  4. Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri

Kelemahan Gerald Corey, 1982: 398)

  1. Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.
  2. Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.
  3. Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya
  4. Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

K.    Aplikasi atau Penerapan dalam Pendekatan Analisis Transaksional

  1. Teknik-teknik pendekatan ini bisa diterapkan pada hubungan orang tua-anak, belajar dikelas, pada konseling dan terapi individual serta kelompok dan pada konseling perkawinan.
  2. Dalam kegiatan kelompok orang- orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah, yang ditandai keterlibatan dengan orang-orang lain. Interaksi dengan kelompok lain memberikan mereka kesempatan yang amat luas untuk mempraktekan tugas dan memenuhi kontrak.
  3. Memecahkan suatu permasalahan melalui kegiatan kelompok akan membawa para anggota menghayati suatu titik dimana mereka membuat keputusan lebih awal yang beberapa diantaranya sudah tidak fungsional lagi dan mereka akan membuat keputusan baru yang sesuai. Sumbangan utamanya adalah perhatiaanya transaksi-transaksi berkenaan dengan fungsi perwakilan-perwakilan ego.(Menurut Gerald Corey, 1982: 394)

DAFTAR PUSTAKA:

Correy,G.1982. theory ang practice of counseling and psycotheraphy. California: cole publishing company

Corey.G.1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Eresco

Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Harris,T. 1987. Saya OK kamu OKE. terjemahan.jakarta: Erlangga

Mappiare, Andi. (2010). Pengantar Konseling dan psikoterapi, Jakarta: Pt. Rajawali Grafindo Persada.

Fauzan lutfi.2001. Pendekatan-pendekatan konseling individual. Malang:Elang Mas

Prawitasari, J.E. 1987. Analisis Transaksional. Yogyakarta

Subandi.A.M. 2002.Psikoterapi pendekatan konvensional dan kontemporer. Yogyakarta : pustaka pelajar

LOGO TERAPI

Standar

Logo Terapi

Pengertian logo terapi diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Logo terapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Secara umum logo terapi ialah corak psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan.

Dalam logo terpai (masuk dalam aliran psikologi) yang dirintis oleh Viktor Frankl ada tiga asas dalam aliran ini yang merupakan pandangan tentang makna hidup :

Pertama, bahwa hidup memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekaipun. Makna adalah sesuatu yang dirasa penting, benar dan berharga yang didambakan serta memberikan nilai khusus seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Dengan adanya makna hidup ini maka manusia akan berusaha menemukan apa tujuan hidupnya, dengan ini maka manusia akan merasa bahwa hidupnya penuh arti dan sangat berharga untuk diperjuangkan. Sebenarnya makna hidup itu sendiri sudah ada dalam diri manusia dan terpatri didalamnya bik dalam kondisi senang ataupun susah.

Kedua, setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tak terbatas untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-sumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya ada pekerjaan dan karya bakti yang dilakukan, serta dalam keyakinan terhadap harapan dan kebenaran serta penghayatan atas keindahan, iman, cinta dan kasih. Makna hidup ada didalam diri kita dan disekitar kita.

Ketiga, setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielekkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar, setelah upaya mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetapi tidak berhasil. Maksudnya jika kita tidak mungkin mengubah suatu keadaan tragis, sebaiknya kkita mengubah sikap atas keadaan itu agar kia tidak terhanyut secara negatif oleh keadaan itu . tentu saja dengan mengambil sikap tepat dan baik, yakni sikap yang menimbulkan kebijakan pada diri sendiri dan orang lain serta sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma-nora lingkungan yang berlaku.

Asas-asas ini hakikatnya merupakan inti dari setiap perjuangan hidup, yakni mengusahakan agar hidupnya senantiasa berarti bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan Agama. Dalam hal ini diakui adanya kebebasan (yang bertanggung jawab) untuk mewujudkan hidup yang bermakna melalui pekerjaan, karya bakti, keyakinan dan harapan secara tepat untuk mengatasi segala permassalahan hidup dn tidak terelakan lagi.

Dari pembahasan diatas maka dapt diambil kesimpulan:

  1. Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun dalam kehidupan ini selalu mempunyai makna.
  2. Kehendak ubtuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
  3. Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan bertanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan, dan memenuhi makna dan tugas hidupnya.
  4. Hidup yang bermakna dapat diperoleh dengan merealisasikan dengan tiga nilai hidup ; yaitu nilai kreatif (creativit value), nilai-nilai penghayatan (experiental value), dan nilai-nilai bersikap (attitudinal  value). Menurut teori ini eksistensi manusia ditandai oleh kerohanian (spirituality), kebebasan (freedom), dan tanggung jawab (responsibility).

 

Daftar Referensi

www.wikipedia.com

http://m.kompasiana.com/post/kejiwaan/2012/05/13/logoterapi-makna-hidup-dalam-psikologi-viktor-frankl/

person centered therapy

Standar

Centered Therapy

Rogers menegaskan  pengalaman pribadi individu sebagai dasar dan standar untuk hidup dan efek terapeutik. Rogers mengidentifikasi 6 kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan kepribadian pada klien: hubungan, kerentanan terhadap kecemasan (pada bagian dari klien), keaslian (terapis benar-benar dirinya sendiri dan menggabungkan beberapa self-disclosure), persepsi klien dari keaslian terapis, hal positif tanpa syarat terapis untuk klien, dan empati yang akurat [9]. penekanan ini kontras dengan posisi memihak yang mungkin dimaksudkan dalam terapi lain, khususnya terapi perilaku lebih ekstrim. Hidup di masa sekarang bukan masa lalu atau masa depan, dengan kepercayaan organismic, iman naturalistik dalam pikiran Anda sendiri dan keakuratan dalam perasaan Anda, dan pengakuan bertanggung jawab kebebasan Anda, dengan maksud untuk berpartisipasi penuh dalam dunia kita, memberikan kontribusi bagi orang lain ‘kehidupan, merupakan keunggulan dari Orang-tengah terapi Roger. Rogers juga mengklaim bahwa proses terapi pada dasarnya adalah prestasi yang dibuat oleh klien. Klien karena telah berkembang lebih jauh dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka pematangan, hanya berlangsung lebih lanjut dengan bantuan dari lingkungan psikologis disukai.

Kondisi eksternal tertentu juga memupuk dan memelihara kondisi internal atas untuk kreativitas. Carl Rogers (1961) menguraikan dua kondisi: keamanan psikologis yang terdiri dari menerima individu pada nilai tanpa syarat, memberikan iklim di mana evaluasi eksternal tidak ada, dan erstanding und empathically. Kondisi kedua adalah kebebasan psikologis. Natalie Rogers (1993) menambahkan kondisi ketiga: Penawaran merangsang dan menantang pengalaman. Keamanan psikologis dan kebebasan psikologis adalah tanah dan nutrisi bagi kreativitas, tetapi benih harus ditanam. N. Rogers menemukan kekurangan saat ia bekerja dengan ayahnya yang merangsang pengalaman yang akan memotivasi dan memungkinkan orang waktu dan ruang untuk terlibat dalam proses kreatif. Karena budaya kita terutama diarahkan untuk verbalisasi, perlu untuk merangsang klien dengan menawarkan pengalaman yang menantang. Percobaan direncanakan atau pengalaman yang dirancang untuk melibatkan klien dalam seni ekspresif membantu mereka fokus pada proses pembuatan.

Apa yang menghalangi kita..?

Dalam karya Natalie Rogers (1993 mengatakan bahwa banyak kliennya yang mengeluh saat mereka mengekspresikan imajinasi mereka dalam seni, keluhan itu muncul akibat dari perspektif negatif orang-orang terhadap apresiasi seni mereka. N. Rogers percaya bahwa kita akan menipu diri kita sendiri dari sumber yang memuaskan dan menyenangkan kreativitas,  jika kita berpegang teguh pada gagasan bahwa seniman adalah satu-satunya yang bisa masuk dalam ranah Seni. Kreatifitas tidak hanya bagi beberapa orang yang mengembangkan bakat atau menguasai media. Kita semua dapat menggunakan berbagai bentuk seni untuk memfasilitasi ekspresi diri dan pertumbuhan pribadi.

 

Kontribusi dari Natalie Rogers Natalie Rogers mengembangkan bentuk terapi person-centerd counseling adalah mengarah pada domain baru dan menarik.

 

person-Centered Therapy dari Multikultural perspektif

 

Kekuatan Dari Perspektif Keragaman

Salah satu kekuatan dari person-centered approach adalah dampaknya pada bidang hubungan manusia dengan kelompok budaya yang beragam.

penekanan pada kondisi inti membuat person-centered approach  berguna dalam memahami beragam pandangan dunia. . Filosofi yang mendasari person-Centered Therapy  didasarkan pada pentingnya mendengar pesan yang lebih dalam clientnya. Empati, kehadiran, dan menghormati nilai-nilai klien adalah sikap penting dan keterampilan dalam konseling klien pada budaya yang beragam.

Kekurangan Dari Perspektif Keragaman

Kelemahan pertama dalah klien masih merasa belum puas dengan teori pendekatan ini, dan meminta cara-cara yang lebih dari para profesional untuk dapat mempermudah mereka dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi.

Kelemahan kedua dari pendekatan yang berpusat pada orang adalah bahwa sulit untuk menerjemahkan kondisi terapi inti ke dalam praktek yang sebenarnya dalam budaya tertentu.

Kelemahan ketiga dalam menerapkan pendekatan berpusat pada orang dengan klien dari beragam budaya berkaitan dengan fakta bahwa pendekatan ini menilai suatu fokus internal evaluasi.

 

Ringkasan dan Evaluasi

Person-centered therapy didasarkan pada filsafat alam manusia yang mendalilkan sebuah perkembangan untuk aktualisasi diri. Selanjutnya, pandangan Rogers dari sifat manusia adalah fenomenologis, yaitu, kita menyusun diri menurut persepsi kita tentang realitas. Kita termotivasi untuk mengaktualisasikan diri kita dalam kenyataan bahwa kita juga merasakan.

Teori Rogers bertumpu pada asumsi bahwa klien dapat memahami faktor-faktor dalam kehidupan mereka yang menyebabkan mereka menjadi tidak bahagia.

Kontribusi person-centerd therapy

Pendekatan humanistik untuk psikoterapi adalah sebagai  terapi efektif atau lebih besar dari teori pendekatan yang  efektif lainnya.

Inovasi dalam person-Centered teori

Salah satu kekuatan dari person-centerd approach adalah “pengembangan metode inovatif dan canggih untuk bekerja dengan berbagai pekerjaan yang semakin sulit,beragam, dan kompleks dari  individu, pasangan, keluarga, dan kelompok” (Kain, 2002b, hal. xxii).

Inovator Kontribusi

 

Natalie Rogers (1993, 1995) Melakukan lokakarya dan mengajarkan orang yang berpusat pada terapi ekspresif seni.

 

Virginia Axline (1964, 1969) Dibuat kontribusi yang signifikan untuk klien yang berpusat pada terapi dengan anak-anak dan terapi bermain.

Eugene Gendlin (1996) Dikembangkan teknik pengalaman, seperti fokus, sebagai cara untuk meningkatkan klien alami.

Laura Beras (Rice & Greenberg, 1984) Diajarkan terapis untuk lebih menggugah dalam menciptakan kembali pengalaman penting yang selalu menyulitkan klien.

Peggy NatielLo (2001) Bekerja daya kolaboratif dan isu gender.

Seni Combs (7988, 7,989, 1999) Dikembangkan psikologi persepsi.

Leslie Greenberg  dan collsagues (Greenberg, Korman, & Paivio, 2002; Greenberg, Padi, & Elliot, 1993), Berfokus pada pentingnya facilifating perubahan emosional dalam terapi dan maju orang yang berpusat pada teori dan metode.

David Rennie (2998) Diperoleh sekilas di kerja dalam proses terapeutik.

Seni Bohart (2003; Bohart &

Greenberg, 1997; Bohart &Tallinan, 1999) Contributed untuk pemahaman yang lebih dalam empati dalam praktek terapi.

Jeanne Watson (2002) Menunjukkan bahwa ketika empati ini beroperasi di, kognitif afektif, interpersonal tingkat nd itu adalah salah satu alat terapis yang paling kuat.

Dave dan Brian Mearns Thorne (1999,2000) Contributed untuk memahami batas baru dalam teori dan praktek dari pendekatan yang berpusat pada orang dan telah angka semut signific di teiching dan mengawasi di Inggris.

 

 

C. H. Patterson (2995)

. Menunjukkan bahwa klien yang berpusat terapi adalah sistem universal psikoterapi.

Mark Hubble, Barry Duncan, dan Scott Miller (7999) Menunjukkan bahwa hubungan terpusat pada klien adalah penting untuk semua pendekatan terapeutik.

Kelebihan pendekatan Person-Centered

1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada terapist

2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.

3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.

4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.

5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi

6.      Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis

7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya

8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

    Kekurangan Pekdekatan Person Centered

1.      Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana

2.      Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan

3.      Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.

4.      Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.

5.      Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.

6.      Teapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup

7.      Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah

8.      Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya

 

Daftar Pustaka

 

Alwilsol(2008). Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang

Suryabrata, Sumadi (2008). Psikologi Kepribadian. Rajawali Pers. Jakarta.

 

Batos, Cindy (2011). TERAPI BERPUSAT KLIEN (Client Centered Teraphy). (Online), diakses pada tanggal 15 Oktober 2011 dihttp://cindybatos.blogspot.com/2011/06/terapi-berpusat-klien-client-centered.html

Chou (2011).Sejarah Person’s Centered. (Online), diakses pada tanggal 19 Oktober 2011 di http://kupu-kupucantik.blogspot.com/2011/01/sejarah-terapi-person-centered.html

Susanto, Eko (2011). Konseling Client Centered. (Online), diakses pada tanggal 20 Oktober 2011 dihttp://eko13.wordpress.com/2011/04/14/pendekatan-konseling-client-centred/

Ummuhani (2010).Model Client-Centered. (Online), diakses pada tanggal 20 Oktober 2011 dihttp://ummuhani88.blogspot.com/2010/03/model-client-centered.html